Minggu, 05 Juli 2009
Launching Website Baru
Telah diluncurkan website remi dari IhsanStore, semoga dapat memperkaya pengetahuan kita bersama. Selengkapnya klik di sini:
Selasa, 03 Februari 2009
Ujian Kualitas Diri
Malam itu berputar-putar dari satu channel Tv ke channel lainnya. Tak ada acara yang menarikuntuk ditonton, maklum namanya juga TV gratisan alias bukan TV Kabel. Tapi, sejenak tertarik dengan acara di sebuah stasiun berita. Yah seorang motivator yang biasa mengisi dengan "salam super" siapa lagi kalo mario.
Tepat ketika menghentikan remote dia sedang menjawab sebuah pertanyaan. Tentang bagaimana menyelesaikan sebuah perintah dari atasan yang sulit? dan tau apa katanya? kurang lebih "sesuatu itu sulit bagi yang belum pernah melakukannya, dan akan mudah bagi yang sudah pernah melakukannya. Jadi ketika anda menyatakan sesuatu itu sulit berarti juga anda telah menentukan kualitas diri atau batas kemampuan anda di depan atasan. karena orang akan dapat mengukur kemampuan anda, jangan terlalu mudah mengeluh, segala sesuatu itu dapat dipelajari jika anda mau belajar".
Dan beberapa hari kemudian itu terjadi padaku, sebuah tugas harus kujalani, langsung teringat dengan ungkapan dari motivator tersebut. Aku pun mencoba untuk menyikapi hal itu dengan tenang. Sambil mulai menggali how to do it dari beberapa orang yang pernah mengemban tugas itu. Saat itu, yang terpikir hanyalah satu kata "ujian kualitas diri". Apabila memenag ini sebuah ujian kualitas dirimaka harus aku tunjukkan seberapa kualitas diriku. segala resiko akan aku terima karena itu sebagai bagian dari proses belajar.
Namun fatalnya, ketika tugas itu tengah berjalan ada satu hal yang paling utama terlewatkan. Kelengahan dalam menggali informasi dan membaca signal-signal yang diberikan sebelumnya. Satu lagi ujian bagiku, yang terpikir adalah next stage dari bagian game yang sedang dimainkan. Aku harus menerima resikonya seperti yang aku nyatakan sebelumnya. Sebuah kalimat yang mencoba untuk mempertahankan semangat adalah ungkapan dari motivator tadi. Ini sebuah ujian kualitas diri yang lebih dalam lagi, aku harus menghadapinya. Lebih baik mati berjuang daripada menyerah itu saja yang berkobar dalam dada. Akhirnya, banyak sekali pelajaran yang ku dapatkan dan sebuah peringatan keras yang sampai hari ini masih selalu terngiang untuk proses perbaikan dalam diri pribadiku.
Tepat ketika menghentikan remote dia sedang menjawab sebuah pertanyaan. Tentang bagaimana menyelesaikan sebuah perintah dari atasan yang sulit? dan tau apa katanya? kurang lebih "sesuatu itu sulit bagi yang belum pernah melakukannya, dan akan mudah bagi yang sudah pernah melakukannya. Jadi ketika anda menyatakan sesuatu itu sulit berarti juga anda telah menentukan kualitas diri atau batas kemampuan anda di depan atasan. karena orang akan dapat mengukur kemampuan anda, jangan terlalu mudah mengeluh, segala sesuatu itu dapat dipelajari jika anda mau belajar".
Dan beberapa hari kemudian itu terjadi padaku, sebuah tugas harus kujalani, langsung teringat dengan ungkapan dari motivator tersebut. Aku pun mencoba untuk menyikapi hal itu dengan tenang. Sambil mulai menggali how to do it dari beberapa orang yang pernah mengemban tugas itu. Saat itu, yang terpikir hanyalah satu kata "ujian kualitas diri". Apabila memenag ini sebuah ujian kualitas dirimaka harus aku tunjukkan seberapa kualitas diriku. segala resiko akan aku terima karena itu sebagai bagian dari proses belajar.
Namun fatalnya, ketika tugas itu tengah berjalan ada satu hal yang paling utama terlewatkan. Kelengahan dalam menggali informasi dan membaca signal-signal yang diberikan sebelumnya. Satu lagi ujian bagiku, yang terpikir adalah next stage dari bagian game yang sedang dimainkan. Aku harus menerima resikonya seperti yang aku nyatakan sebelumnya. Sebuah kalimat yang mencoba untuk mempertahankan semangat adalah ungkapan dari motivator tadi. Ini sebuah ujian kualitas diri yang lebih dalam lagi, aku harus menghadapinya. Lebih baik mati berjuang daripada menyerah itu saja yang berkobar dalam dada. Akhirnya, banyak sekali pelajaran yang ku dapatkan dan sebuah peringatan keras yang sampai hari ini masih selalu terngiang untuk proses perbaikan dalam diri pribadiku.
Kamis, 01 Januari 2009
Komitmen
Untuk muncul sebuah komitment membutuhkn sebuah proses yang cukup panjang. setidaknya untuk komitment yang dibuat secara sadar bukan paksaan. Tapi ketika komitmen itu mulai berjalan ternyata akan banyak sekali variabel-variabel yang akan selalu mencoba untuk merusak dan membelookkan komitmen tersebut. Intinya mempertahankan akan lebih sulit dari membuat.
Namun kadang timbul sebuah pertanyaan, akankah sebuah komitmen itu statis dari awal terbentuk? itu pertanyaan yang berlum terjawab dalam otakku yang dangkal...
Namun kadang timbul sebuah pertanyaan, akankah sebuah komitmen itu statis dari awal terbentuk? itu pertanyaan yang berlum terjawab dalam otakku yang dangkal...
Senin, 03 November 2008
Jumat, 04 Juli 2008
Terinspirasi Baju Shablenk Semalem

Baju hitam dengan lambang S di dada. O o o Siapa Dia? tentunya ingatan anda akan segera terarah pada satu tokoh hero yang terkenal, saking terkenalnya sampe "anak kecil aja tahu". SUPERMAN dialah orangnya, dan tahukan siapa yang bisa membunuh Superman? tentu saja orang Indonesia with " Superman is Dead" (huaha maksa banget).
Saat mendengar nama itu tentunya tidak perlu lagi dijelaskan siapa dan bagaiman Superman itu. semuanya juga sudah tau kehebatannya. Matanya yang tajam dapat menembus apapun yang ada didepannya. Wuih/.. wuih mungkin banyak orang yang bermimpi ingin seperti dia. Berkhayal bisa berubah jadi SUperman.
Padahal nggak mungkin kita berubah jadi manusia super alias Superman, karena yang super hanyalah Tuhan penguasa alam semesta. (waduh nyambungnya kok ke arah tasyiah.... ) Tapi kalau keinginannya hanya sebatas orang digambar ini sih masih sah-sah aja. Karena memang dia rada "Edan". (wuih..)
Minggu, 22 Juni 2008
All G
Sebuah kalimat menarik yang terpampang di depan sebuah kantor yang kira-kira bunyinya "if you continously give you will continuosly get" (jika kamu selalu memberi maka kamu akan selalu menerima). Menarik karena kaliamat ini teryata telah digunakan sebagai motto di kantor-kantor. Namun, bagaimana orang-orang sekitar kantor tersebut dalam memaknainya?.
Berdasar pengamatan nampaknya hanya sedikit saja yang mampu memahami motto tersebut. terutama adalah jajara pejabat atas, yang notabene berharap agar motto terebut berjalan demi sebuah produktifitas perusahaan. Dan beberapa persen dari orang-orang yang bekerja dengan orientasi berbeda (bukan pemburu lembaran rupiah).
Apa yang muncul dari benak golongan orang yang tidak mengerti dengan kalimat ini adalah sebuah perhitungan matematis. Matematis mengedepankan tuntutan hak bukan pelaksanaan kewajiban. "Berikan sesuatu padaku dan aku akan memberikan sesuatu padamu" atau "Buat apa memberi buat sendiri saja nggak cukup" begitu reaksi ang sering muncul.
Padahal memberikan sesuatu itu tidak harus berupa harta benda seperti yang disebut oleh hadist berikut ini
'Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad).'
Dari Hadist tersebut nampak, bahwa tidak semuanya memberi itu berarti berupa harta. Tapi tersenyum saja itu sudah merupakan pemberian yang luar biasa. Bayangkan diri kita ketika bertemu kawan dan saling tersenyum, alangkah indahnya dunia ini. Apalagi bisa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat untuk penulis pribadi.
Berdasar pengamatan nampaknya hanya sedikit saja yang mampu memahami motto tersebut. terutama adalah jajara pejabat atas, yang notabene berharap agar motto terebut berjalan demi sebuah produktifitas perusahaan. Dan beberapa persen dari orang-orang yang bekerja dengan orientasi berbeda (bukan pemburu lembaran rupiah).
Apa yang muncul dari benak golongan orang yang tidak mengerti dengan kalimat ini adalah sebuah perhitungan matematis. Matematis mengedepankan tuntutan hak bukan pelaksanaan kewajiban. "Berikan sesuatu padaku dan aku akan memberikan sesuatu padamu" atau "Buat apa memberi buat sendiri saja nggak cukup" begitu reaksi ang sering muncul.
Padahal memberikan sesuatu itu tidak harus berupa harta benda seperti yang disebut oleh hadist berikut ini
'Tiap-tiap amalan makruf (kebajikan) adalah sodaqoh. Sesungguhnya di antara amalan makruf ialah berjumpa kawan dengan wajah ceria (senyum) dan mengurangi isi embermu untuk diisikan ke mangkuk kawanmu. (HR. Ahmad).'
Dari Hadist tersebut nampak, bahwa tidak semuanya memberi itu berarti berupa harta. Tapi tersenyum saja itu sudah merupakan pemberian yang luar biasa. Bayangkan diri kita ketika bertemu kawan dan saling tersenyum, alangkah indahnya dunia ini. Apalagi bisa berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat untuk penulis pribadi.
Minggu, 13 April 2008
To be Positive.. sulit tapi harus...
Baru-baru ini aku masih berpikir, bermula ketika aku menerima CD dari Boss-ku dari seorang motivator sekaligus praktisi(menurutku). Kusebut praktisi karena memang sudah bisa membuktikan semua omangannya. Dalam CD motivator tersebut banyak sekali dibahas how to be A positive man.
Beberapa saat setelah aku mendengarkan aku jadi teringat sebuah konsep yang sedang dikembang di lingkungan saudara-saudaraku. Penjelasannya cukup gamblang dan menyenangkan begitu juga konsep yang dibangun begitu mudah meracuni otakku.
Beberapa saat aku terpikir akan konsep yang akhir-akhir ini memang sedang menerpaku. Konsep to be positive. Konsep akhlakul karimah (dalam bahasa Islamnya).. ahhh aku serasa makin gila kalo memikirkannya. Bukan memikirkan kebenaran atau keeffektifannya untuk diterapkan dalam hidup saat ini. Tapi yang menjadikan gila adalah how to do it?
Berbagai metode yang selama ini aku tau baik itu dari saudara-saudaraku atau dari sumber lainnya aku yakin semua benar. Tapi sungguh aku masih perlu melihat kembali dalam tubuhku bagaimana melawan infeksi yang makin menggerogoti.
Tapi mental itu aku yakin telah tertanam dalam dadaku. Mental yang masih membutuhkan banyak pupuk kemauan dan siraman niat untuk melakukannya. Mental yang didasari oleh satu teladan dari Seorang Panutan yang Maha Dasyat.
Beberapa saat setelah aku mendengarkan aku jadi teringat sebuah konsep yang sedang dikembang di lingkungan saudara-saudaraku. Penjelasannya cukup gamblang dan menyenangkan begitu juga konsep yang dibangun begitu mudah meracuni otakku.
Beberapa saat aku terpikir akan konsep yang akhir-akhir ini memang sedang menerpaku. Konsep to be positive. Konsep akhlakul karimah (dalam bahasa Islamnya).. ahhh aku serasa makin gila kalo memikirkannya. Bukan memikirkan kebenaran atau keeffektifannya untuk diterapkan dalam hidup saat ini. Tapi yang menjadikan gila adalah how to do it?
Berbagai metode yang selama ini aku tau baik itu dari saudara-saudaraku atau dari sumber lainnya aku yakin semua benar. Tapi sungguh aku masih perlu melihat kembali dalam tubuhku bagaimana melawan infeksi yang makin menggerogoti.
Tapi mental itu aku yakin telah tertanam dalam dadaku. Mental yang masih membutuhkan banyak pupuk kemauan dan siraman niat untuk melakukannya. Mental yang didasari oleh satu teladan dari Seorang Panutan yang Maha Dasyat.
Langgan:
Entri (Atom)